Tuesday, 1 November 2011

Doa Yang Terlupakan

Percaya atau tidak kematian itu pun kita sendiri yang harus memilih. Sama seperti bagian dari kehidupan kita yang lain, yang selalu menuntut kita untuk memilih. Suka atau tidak. Jumat terakhir di bulan November kali ini, menggoreskan kenangan pilu di hatiku. Betapa tidak, seorang saudari yang dipertemukan oleh Allah telah diambil kembali oleh sang penciptanya. Kejadiannya kilat. Berawal dari kecelakaan maut yang akhirnya merenggut nyawanya.
            Sepulang dari pemakaman, aku berbincang dengan seorang Ibu yang duduk di sampingku sembari mengendarai mobilnya melaju mengantarkanku pulang.
            “Astaghfirulloh, siapa yang menyangka ya Teh, kematiannya harus seperti ini.”
            “Itulah kekuasaan Allah, Neng.” Timpalnya pelan.
            Aku pun merenungi kejadian ini. Teringat kejadian naas yang menimpa pembalap Simoncelli kemarin, dia meninggal di sirkuit tempat ia berlomba. Tempat yang mungkin paling ia senangi. Dan beberapa peristiwa kematian lain yang merayap di benakku. Tapi kali ini, aku yakin saudariku itu tentu tidak menginginkan meninggal di pinggir jalan raya akibat kecelakaan. Keinginannya adalah sama dengan keinginanku, keinginan kita semua yang berharap meninggal syahid lagi khusnul khotimah. Tapi mungkin dari doa yang kita panjatkan itu kita lupa untuk mengatakan sesuatu, lupa memohon agar kelak saat kita meninggal kita bisa berada dalam dekapan orang-orang tercinta, dalam tempat yang mulia dan baik, dan lain sebagainya.
            Astaghfirulloh.
            Dari kematianlah kita belajar bersyukur, bersyukur atas nikmat yang diberikan sebelum seluruh kenikmatan itu dicabut dari diri kita, dari kematian kita jadi terus berjuang dan berlomba mengumpulkan amal-amal sholih serta menabung kebaikan guna bekal di akhirat nanti, dari kematian kita juga belajar memahami bahwa semua yang hidup pasti akan mati dan semua yang kita sayangi dan cintai hanyalah fana semata. Hanya Allah yang kekal, tempat berasalnya cinta dan tempat kembalinya cinta.
            Terurai kembali air mataku tatkala mengingat kenangan bersamanya. Tapi kuasa Ilahi tak pernah bisa ditandingi. Hanya mampu sekuat tenaga untuk berdoa, berharap Allah akan merangkulnya dengan penuh kasih dan memberikan tempat terbaik di sisiNya, serta melepas kepergian saudariku dengan penuh keikhlasan, dan bercita-cita semoga Allah kelak mempertemukanku lagi dengannya di surga, bersama para jajaran bidadariNya di sana. Amin.
Wallahu ‘alam bishowab..
 

No comments:

Post a Comment